SOKATU: INOVASI SOSIS AYAM DENGAN PENAMBAHAN DAUN KATUK SEBAGAI CAMILAN BERSERAT BAGI REMAJA
Abstract
Rendahnya konsumsi serat pada remaja menjadi salah satu permasalahan gizi di Indonesia. Daun katuk (Sauropus androgynus L. Merr.) merupakan bahan pangan lokal yang kaya serat dan zat gizi, sedangkan sosis ayam merupakan produk pangan yang banyak digemari remaja. Penelitian ini bertujuan mengembangkan SOKATU (Sosis Daun Katuk) sebagai camilan berserat bagi remaja, menentukan formulasi terbaik, tingkat penerimaan, penyajian dan kemasan, harga jual, break-even point (BEP), serta Business Model Canvas (BMC). Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model 4D (Define, Design, Develop, dan Disseminate). Pada tahap Design, sosis ayam dikembangkan dengan penambahan daun katuk sebesar 10%, 20%, dan 30%. Hasil uji sensoris menunjukkan formulasi 10% (F1) memiliki tingkat penerimaan terbaik pada aspek warna, aroma, rasa, tekstur, dan keseluruhan. Validasi ahli menghasilkan perbaikan berupa penambahan smoked powder untuk meningkatkan cita rasa dan aroma serta mengurangi aroma langu daun katuk. Uji penerimaan terhadap 80 panelis tidak terlatih dianalisis menggunakan paired t-test dan menunjukkan perbedaan signifikan pada aspek penampilan, warna, aroma, rasa, dan keseluruhan, sedangkan tekstur tidak menunjukkan perbedaan signifikan. SOKATU memiliki harga jual Rp5.000 per kemasan dengan BEP sebanyak 55 kemasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SOKATU berpotensi menjadi alternatif camilan berserat yang bergizi dan sesuai dengan preferensi remaja serta dapat dikembangkan sebagai produk pangan inovatif berbasis pangan lokal.