Tauhid Sebagai Landasan Keadilan Gender dalam Tradisi Golok-golok Mentok di Kabupaten Kudus
DOI:
https://doi.org/10.21831/ikadbudi.v14i3.100843Abstract
Tauhid tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga memiliki akibat terhadap hubungan antarmanusia, termasuk hubungan antara laki-laki dan perempuan. Penelitian ini bertujuan menjelaskan nilai tauhid dalam simbol dan pelaksanaan tradisi Golok-golok Mentok, bentuk keadilan gender yang terwujud, dan keterbatasan yang masih terdapat dalam tradisi tersebut. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dan dilaksanakan di Desa Garung Kidul, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Informan dipilih berdasarkan pengetahuan dan keterlibatannya dalam pelaksanaan tradisi. Data dianalisis dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tauhid dalam Golok-golok Mentok tampak melalui penghormatan terhadap anak perempuan, keterlibatan mereka dalam kegiatan di ruang publik, kebersamaan masyarakat, dan pembagian makanan. Frasa bancakane bocah wedok menempatkan anak perempuan sebagai pusat perayaan dan menandai berakhirnya perlakuan buruk terhadap mereka. Namun, penghormatan tersebut masih lebih kuat pada tingkat simbol. Perempuan telah terlibat dalam persiapan, kepanitiaan, dan pelaksanaan kegiatan, tetapi peran memimpin doa masih diberikan kepada laki-laki. Penelitian ini menunjukkan bahwa tauhid dapat digunakan untuk mempertahankan unsur tradisi yang menghormati perempuan sekaligus menilai pembagian peran yang belum sepenuhnya adil.
Kata Kunci: tauhid; keadilan gender; Golok-golok Mentok; tradisi lokal; Kudus
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Nujumun Niswah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

1.png)